Friday, September 08, 2006

Homestay

Bersama Host Family in Restoran Sashimi
Seharusnya ini tulisan pertama saya, tapi saya posting sebelumnya ke milis JDS 2006. Sesuai dengan program JICE, saya harus menjalani kegiatan Homestay selama 2 hari 1 malam (26-27 Agustus 2006). Berikut tulisan yang saya buat berdasarkan pengalaman di Homestay.

Bab Satu: Family Member, Volvo and English Sessions.

Nishikawa-san dan istrinya Keiko-san punya 2 anak, Masaru (boy, 33) dan Ranko-san (girl, 26). Yang disebut belakangan ini sempat membuat Pak Andi (ehem) jealous berat sama saya. Dari fotonya, terlihat cantik untuk ukuran Jepang. Alamak! Sedang bapaknya terkesan dingin, khas Jepang.

Setelah perkenalan umum di Piazza Omi di bibir Danau Biwako, saya mendekati Pak Nishikawa dan mulai kenalan. Saya tertegun. Ternyata orangnya cukup hangat dan akrab. Saya beruntung, karena beliau bahasa Inggrisnya cukup lancar. Menurutnya, istrinya lebih lancar lagi. [oh, syukurlah. Soalnya saya benar2 nggak siap untuk all out nihonggo]. Belakangan saya tahu alasan mereka bisa bahasa Inggris. Mereka sempat tinggal di USA 3 tahun dan 2 tahun di Negeria, sebagai dokter kedutaan Jepang.
Sampai di parkiran, saya kembali tertegun. Mobil Pak Nishikawa paling mewah, merek volvo. Masih ada sisa setengah meter meskipun saya sudah 100% selonjor di kursi samping sopir. Dasar orang kampung!

Bab Dua: The House and the Launch.

Kami sampai kira2 10 menit setelahnya. Masuk rumah tingkat 2 yang cukup besar jika dibandingkan rumah tetangga kiri dan kanannya. Istrinya, Keiko-san juga tak kalah ramahnya. Benar, dia lancar berbahasa Inggris. Saya disuguhi lunch mie ayam campur rujak. Kenapa saya sebut begitu? Karena rupa dan rasanya memang seperti mie ayam Bakmie Gajahmada. Irisan timun plus bumbu mirip benar dengan rujak untuk selametan tujuh bulanan istri saya dulu. Oh, istriku, jika saja kau ada di sampingku ……HUSH…. NGACO.

OK, fokus lagi ke homestay. Saya makan sampai 1,5 porsi gara2 keenakan. Sambil makan, kami saling bercerita. Keiko-san ternyata pemeluk kristen taat, sementara suaminya nyengir aja waktu ditanya agamanya apa. Rumahnya mewah menurut cara pandang saya. Ruang tidur utama ada di lantai dasar, sementara ruang kerja, living room dan kitchen di lantai 2. Saya menempati kamar di lantai 2 dengan perlengkapan TV kecil, dipan plus kasur serta piano yamaha ukuran kecil.

Rupanya mereka hanya berdua saja. Masaru-san sudah bekerja di prefecture lain, sementara sang putri Ranko menempati rumah keluarga Nishikawa yang lain, sudah lulus univ. tapi belum kerja. Atau barangkali diungsikan sementara saya tinggal di sana. Takut kali anaknya kecantol pria Indonesia seperti saya, hik hiks.

Acara buka omeyagi adalah kegiatan selanjutnya. Untung Pak Andi semalem sempat tukeran omeyagi, jadi lebih variatif. Dasi batik, pembuka amplop bernuansa batik, dan 2 bookmark wayang. Makasih Pak Andi. Mudah-mudahan sampeyan digampangkan jodoh, dihamparkan rejeki dan dianugerahi kemampuan untuk lebih menarik hati onnano hito. Wabil khusus hihongjin. Hehe …..

Bab Tiga: Perbandingan Agama dan Sashimi

Saya sempat mengenalkan Islam kepada Bu Keiko. Bu Keiko kaget setelah tahu, banyak persamaan antara Kristen, Jewish dan Islam dalam sejarah kelahirannya. Saya jelaskan bahwa 3 agama samawi itu memang sumbernya satu, Nabi Ibrahim atau Abraham. Saya jelaskan bahwa oleh sementara kalangan, Islam adalah agama Ibrahim versi Ismail, sedang Ishak adalah pembawa agama Ibrahim versi Jewish. Dari situ cara pandang masing2 mulai berubah. Selalu ada versi masing-masing, termasuk dalam Kristen. Bu Kiko memberi contoh, dia percaya bahwa yang akan dipotong oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishak, sementara menurut Islam, saya jelaskan, yang akan disembelih atas Perintah Allah itu Ismail. Bla … bla … bla. Kami saling menjelaskan dalam suasana damai dan santun. Persis seperti kuliah Perbandingan Agama di IAIN deh.

Suaminya hanya mesam-mesem dan sesekali berkomentar. Beberapa kali saya dan Pak Nishikawa mengambil foto. Hampir lupa, kamdig yang saya bawa milik Pak Wawan. Maklum saya belum punya sendiri. Bagi saya, bawa istri ke Jepang jauh lebih berharga daripada buru2 beli kamera. Tapi karena perbedaan adalah rahmat, maka saya ucapkan terima kasih pada Pak Wawan yang sudi meminjamkan kamera baru Sony. Sayang dia lupa ngecas baterai. Ada momen bagus nggak sempat terekam. Pada bab belakang saya akan cerita.

Jam 2 saya sempatkan memperbaiki skype mereka. Problemnya, mereka bisa dengar lawan bicara, tapi lawan bicara nggak bisa dengar mereka. Micnya rusak. Susahnya softwarenya kanji. Dengan bekal pengetahuan dan trik sedikit, saya bisa memperbaiki kerusakan ini. Mereka gembira setengah mati. Ridwan-san, kamu memang hebat. Dan telingaku pun terasa 5 kali lebih besar mendengarnya ….

Sorenya saya diajak ke departmen store dekat rumah. Mampir di toko buku tapi nggak ada yang bahasa Inggris. Seperti biasa, saya sempatkan lihat komik2 yang ada gambar dewasa di tengahnya. Hmmm, yummy….

Malamnya, tepatnya jam 5.30, kami bertiga menuju restoran sashimi di batas kota Otsu dan Minami. Mereka memilih sashimi setelah saya bilang pernah menikmati sabu-sabu, tempura dan sukiyaki. Mereka ingin saya menikmati masakan baru. Oh, God, ternyata sashimi adalah hidangan laut mentah.



Maka dengan modal Bismillah, saya lahap itu sashimi. Waduhhhh, rasanya campur aduk. Antara geli, pedas, asam, wis … pokoke campur lah. Kalau nggak ingat susahnya dapat beasiswa, pasti saya muntahin itu sashimi. BTW, amisnya sama sekali nggak kerasa.

OK, hasil kunyahan pertama berhasil saya telan. Habis itu minum koca hangat setengah cangkir. Mereka senyum2 dan tanya gimana? Seperti biasa saya jawab: omoshiro kute, oishi kute, kirei desu. Ah, gomasuri sebenarnya sih … lip serpis doang. Begitu terus sampai 3 sessions. Bisa dibayangkan khan betapa eneknya saya; herannya itu semua masuk aja tanpa terasa. Mungkin karena ada jahe, wasabi dan koca. Atau mungkin saya yang rakus? Entahlah. Sesekali ada tempura shrimp dan belut goreng. Langsung saya sikat habis.


Acara makan malam berlangsung 2 jam. Setelah selesai, saya pura2 mau keluarin dompet. Mereka ketawa2 aja sambil ngeloyor pergi. Rupanya itu adalah resto langganan yang bayarnya bulanan. Teori yang saya pelajari selama ini, untuk pura2 membayar makanan sendiri, tidak berlaku di sini. Ada rasa syukur nyelip di hati ……..:)

Bab Empat: Afterdinner dan The Great Coincidence Hanabi.

Sampai rumah, saya dan Keiko-san langsung naik ke lantai 2. malam itu gerimis. Nggak tahu tuh Pak Nishikawa sibuk sendiri di kamar bawah yang satunya. Mungkin ada kerjaan kantor, pikir saya. Atau jangan2 dia muntah2. Maklum tadi di resto ngebir sampai 3 gelas besar plus sake 4 sloki. Alhamdulillah, saya nggak dipaksa minum.



Sekitar pukul 8, mendadak ada suara seperti meriam dan mercon bantingan. Rupanya ada hanabi (firework)! Mereka sama sekali tidak menyangka. Dari jendela atas yang besar itu, saya BENAR-BENAR MELIHAT HANABI. Oh…. Indah sekali, dan terus menerus. Merah, hijau, kuning, biru bercampur aduk. Dengan selang seling antara bentuk besar dan kecil, hanabi tak terduga ini berlangsung hampir 1 jam.

Maaf teman2, jangan iri ya…….

Oh, ya. Rumah keluarga ini memang nggak jauh dari bibir danau Biwako. Viewnya luar biasa bagus, walau tanpa hanabi. Sayangnya, baterai kamdig Wawan habis.

[Mas Widhi, terima kasih atas foto hanabi di Lake Biwa yang terkenal itu ...]

Mendadak Pak Nishikawa bergabung. Di tangannya adalah beberapa lembar foto. Oh, rupanya dia mencetak foto di kamar bawah. Pantesan lama. “Ini buat kamu semua”, katanya. Satu lagi kenikmatan kudapat hari itu ….. Karena ngantuk, aku pamitan untuk ngamar pada 9.00. Setelah jamak sholat magrib dan isya :D. Malam itu aku nggak bisa tidur nyenyak, mungkin karena ikan mentah itu.

Terima kasih Allah, atas semua nikmatmu ….

Bab Lima: Perpisahan dan Melihat Apato.

Habis sarapan ala western, Pak Nishikawa bertanya: “Hari ini kamu ingin kemana? Gimana kalau ke Golden Temple Kyoto?”. Waduh, saya senang banget jika benar2 diajak ke sana, karena pasti bagus banget dan juga pasti gratis. Tapi, naluri Jawa saya muncul. Saya bilang, tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin ke Yodobashi kamera di Osaka untuk membeli sesuatu. Lagian saya punya janji dengan senior mau mengunjungi Golden Temple rame-rame suatu saat nanti.

Saya sengaja berbohong, karena nggak enak. Terlalu banyak yang sudah diberikan keluarga ini. Generosity dan hospitality nya benar2 bikin saya terharu. Bahkan saya dibolehkan masuk dapur dan mengambil video dengan kamdig. Bertolak belakang dengan ajaran Watanabe-san tentang Japanese cross-culture.

Tapi dasar orang Jepang nggak mudah putus asa, Pak Nishikawa memberi ide lain. Gimana kalau kamu saya antar lihat apato di dekat Minami Station. Dari situ khan ada bis ke Rits, jadi transportmu akan lebih lancar. Jadilah kami berdua meluncur dengan Volvo 960. Istrinya ke gereja dengan Honda mirip Jazz, saya sudah pamit sebelumnya pada Keiko-san.

Sambil nunjukin beberapa tempat, Nishikawa-san memutari sta. Minami Kusatsu. Dia berhenti setelah beberapa blok. Rupanya dia menunjukkan kantor dan ruangan tempatnya bekerja.

Lalu, dengan spontan dia mengajak saya melihat apato di dekat situ. Memang banyak apato berjejeran. Wah, agaknya 172.000 tidak akan bersisa kalau saya maksain milih apato di wilayah ini. Mentereng habis. Kami sempat masuk di salah satu apartemen milik kawannya. Saya jadi tahu bentuk family apato yang sebenarnya. Setelah sempat melihat price list, kami kembali ke Sta. Minami Kusatsu.

Dia ngacir duluan ke tempat karcis, dan …. Ya ampun …….. Dia beliin karcis buat saya seharga 1350 yen (Minami Kusatsu-Ibaraki). Wah, genaplah penderitaan, eh salah, kegembiraan saya selama homestay ini. Nggak keluar yen sepeserpun. Dan kami pun berpisah. Makasih banyak Pak Nishikawa. Semoga sampeyan sekeluarga tetap diberi kebahagiaan dan kegembiraan selalu.

Sebelum berpisah, beliau titip pesan kepada kita semua:

“Ridwan-san. If you or ANY OF YOUR FIRENDS have illness or others that need medical treatments, please feel free to contact me at 090-7341-XXXX. I know every doctors live here. So I can recommend them to make a first priority to help YOU and YOUR FRIENDS”.

Ya Allah, betapa tulus tawaran beliau. Maka sebelum terlanjur menitikkan air mata, saya segera pamit sambil mengucapkan terima kasih dan membungkuk dalam-dalam pada Nishikawa-san.

Sekian.

No comments: