Thursday, December 07, 2006

Gaji PNS dan Korupsi - 1

[buat Tuhan]
Ya Allah Tuhanku, rasanya baru kemarin aku berdoa (melalui puisi si Faiz) buat temanku di Hitotsubashi sana, hari ini sudah Kau kabulkan (dengan rencana kenaikan gajinya). Terima kasih Tuhan.

[buat Haris dan Cahyo]
Mbak Ani (Dr. Sri Mulyani Indrawati, Menkeu) khan sudah menyebut, dananya berasal dari anggaran taktis Menkeu. Jadi DPR nggak perlu mencak2 gitu. Kalau nggak setuju, gampang aja. Caranya, tekan SBY agar Mbak Ani diganti. Dengan demikian kebijakan ini akan berakhir, karena sang Menkeu baru akan punya pandangan lain. Ho oh, tho?

Anyway, saya dari dulu setuju dengan model ini. Beri pegawai kita gaji yang layak, kalau perlu bersaing dengan gaji pegawai korporasi besar. Lalu, minta komitmennya untuk bekerja keras. Pakai ukuran2 yang benar untuk menghitung kinerja mereka. Basiskan pendapatan mereka atas hasil kerjanya. Tapi, kalau ketahuan nyolong, langsung pecat. Nggak usah pakai UU PNS atau PP sejenisnya.

Ketika suatu masa, pernah saya coba lakukan hal sejenis. Setiap akhir pekan, anak buah saya mendapat bonus ekstra sesuai hasil kerjanya. Kurang lebih 750 ribu s.d 1 juta per minggu. Dari pengamatan saya, kinerja mereka rata2 naik 3 kali lipat dibanding PNS biasa. Jadi hanya dengan menaikkan gapok 100% saja, saya (negara?) bisa untung 300%. Saya coba selama 2 tahun, dan 2 tahun itu grafik kinerja mereka tetap stabil. Sayang orde proyek berakhir dan diganti sistem ABK (Anggaran Berbasis Kinerja), yang ternyata tidak serta merta berbasis kinerja alias sama saja. Malah tambah susah keluar duitnya, hehe.

Kali lain, saya pernah berbincang dengan seorang kandidat penerima JDS yang ternyata gagal saat wawancara dengan professor. Dia sebenarnya agak segan kalau diterima sebagai JDS awardee, karena menurutnya gajinya sudah lebih dari cukup. Dengan bertugas di kantor Gunung Sahari (kantor pajak), si teman ini per bulan bisa mengantongi 7 juta plus. Dari semangatnya, saya bisa mengira-ira bahwa kinerja teman saya ini di atas rata2 PNS.

Well, tak ada kata cukup buat manusia. Tapi kalau gajinya lebih dari kebutuhan hidupnya (seperti kita sekarang?), maka konsentrasi ke pekerjaan (kampus) akan jauh lebih mudah. Dan rasanya dunia jadi lebih indah. Ta' iye?

[buat muliawan-muliawati PNS Depkeu van JDS]
Sudahlah, daripada sampeyan ribut mikirin kebenaran berita ini, mendingan sampeyan selametan saja dulu. Biasanya, sih, dengan selametan (baca: berbagi kegembiraan), impian itu bisa jadi kenyataan. Kenapa? Karena lebih banyak orang yang berdoa buat sampeyan.

Jadi gimana? Kita ngumpul di suatu tempat dengan host kawan2 Depkeu. Setuju??? Banyak opsi, diantaranya ke Honjo rame2 ... atau ... terserah sampeyan sajalah. Yang penting SPPD dan akomodasi ditanggung. Kalau setuju, ndak cuma dunia yang sampeyan dapat, tapi akhirat minimal kecipratan. Hik hiks.

Oke deshiyo ....

No comments: