Saturday, March 10, 2007

Mutia Pantas Jadi Menteri

Menelpon rumah di Indonesia adalah kebiasaan saya setiap malam. Saya berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan keluarga, sebelum mereka menyusul saya ke Jepang.

Senin malam minggu lalu adalah Senin malam yang berbeda bagi saya. Setelah berbincang cukup lama dengan istri, kemudian dilanjutkan dengan anak pertama saya, Mutia. Mengapa saya katakan berbeda? Ini dia sebabnya.

Sambil terisak kecil, Mutia menyapa saya, "Abi apa kabar?". "Alhamdulillah, Abi baik. Mutia kenapa menangis?". Sambil menahan tangis yang hampir meledak, dia menjawab "Aku tadi disetrap di sekolah karena ikut upacaranya terlambat". "Koq, bisa terlambat sayang?", tanya saya. "Bangunnya terlambat atau jemputannya yang terlambat?". "Jemputannya Abi", sahutnya sambil terisak.

"Kata Bu Guru, nilai PKPn - ku mau dikurangi soalnya terlambat", lanjutnya polos. Kemudian saya menjelaskan bahwa tidak apa-apa nilainya dikurangi. "Teman-teman yang lain di jemputan disetrap juga, khan?", tanya saya selanjutnya. "Enggak, Bi. Si Hana (sebut saja begitu) pura-pura sakit dan langsung masuk kelas. Dia nggak dikurangi nilainya karena sakit. Padahal habis itu dia bilang ke aku kalau dia bohong". Kembali terdengar isaknya perlahan. "Ya sudah, nggak apa-apa. Kalau nanti nilai ulangan PKPn Mutia bagus, pasti pengurangan nilainya sedikit. Sabar ya sayang ....". "Iya Abi", sahutnya. Lalu saya minta dia kembali belajar dan telepon kembali diserahkan pada istri.


Setelah acara menelpon selesai, saya lantas berpikir. Ada sesuatu yang terlupa dalam pembicaraan saya dengan Mutia. Ah, saya ingat sekarang! Ternyata Mutia kena setrap di sekolah HANYA karena dia mencoba untuk jujur. Jika dia pura-pura sakit seperti teman satu jemputannya, pasti dia tidak kena setrap. Masya Allah. Ini insight yang sangat berharga dari anak saya. Saya dan istri memang mengajarkan pada anak-anak untuk selalu bersikap jujur dalam keadaan apapun. Pernah pada suatu ketika dia berbohong tentang nilai ulangan. Ketika ketahuan berbohong, saya marahi dia. Bukan karena nilai ulangannya yang jelek, tapi karena bohong. Setelah itu, dia berjanji untuk tidak bohong lagi.

Setelah terdiam beberapa menit, tak terasa tangan saya mengambil gagang telepon kembali. Saya harus melakukan sesuatu. "Assalamu'alaikum Ummi. Mutia mana?", tanya saya langsung. "Mutia sudah masuk kamar dan tidur. Tumben Abi nelpon lagi", kata istri saya keheranan. "Ah, nggak ada apa-apa. Cuma, tolong besok beritahu pada Mutia, bahwa Abi berterima kasih padanya. Katakan bahwa Abi bangga memiliki anak seperti dia". Setelah itu saya jelaskan percakapan saya dengannya pada istri. Akhirnya kami berdua tersenyum gembira. "OK, Insya Allah besok kusampaikan", sahut istri sembari menutup pembicaraan.

Malam itu, saya tidur sambil tersenyum. Segala puji hanya bagi Allah SWT. Betapa gembiranya saya selaku orang tua. ANAK SAYA BERUSAHA JUJUR -- walau dengan resika kena setrap -- seperti yang kami ajarkan. Sesuatu yang mulai sulit ditemui, bahkan dalam diri saya belakangan ini.

Saya jadi teringat dengan kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia akhir-akhir ini. Percaya atau tidak, kejadian-kejadian tersebut pasti bermula dari ketidakjujuran. Penumpang ferry yang membeli tiket dengan tidak jujur; maskapai penerbangan yang memelihara pesawat dengan tidak jujur; aparat pemerintahan yang bekerja tanpa semangat kejujuran ..... Sesuatu yang lama-lama terakumulasi menjadi insiden, kecelakaan dan tragedi; hingga akhirnya menghilangkan nyawa manusia-manusia berharga yang kita miliki. Professor Kusnadi, DR. Masykur Wiratmo, DR. Mulyanto, Letjen (Purn) Yogi, dan para korban yang lain. Bagimanapun, mereka sangat berharga bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ah, seandainya Mutia bisa jujur sampai kelak dia dewasa, tidak mustahil dia bisa jadi Menteri. Sebab saya yakin pada masanya nanti, Presiden Indonesia hanya memilih orang-orang jujur untuk jadi pembantunya. Dan malam itu, seorang ayah belajar dari anaknya.

No comments: