Tuesday, April 10, 2007

Watashiwa Mutia desu!

Senin pagi, 9 April 2007.

Pagi itu, saya sekeluarga mengantar Mutia ke sekolah untuk pertama kali. Campur aduk rasanya, sebab jangankan dia, saya saja yang sudah belajar intensif Nihonggo 2 bulan, masih gagap kalau berbicara dengan orang Jepang. Setelah sarapan pagi dan mengenakan seragam SD lengkap, saya sempat bertanya padanya, "Mutia, deg-degan nggak berhadapan dengan guru, teman-teman dan lingkungan yang serba baru?". "Iya sih, dikit", katanya ringan. Saya percaya dengan pengakuannya ini, sebab waktu pertama masuk TK dan SD di Indonesia, dia memang penuh percaya diri dan tidak merasa takut sedikit pun.

Ingatan saya lantas kembali ke beberapa minggu lalu, saat saya dan Mutia harus ke Otsu City Hall (bagian Pendidikan) untuk wawancara. Sebelum wawancara, saya ingatkan dia untuk tetap rileks. Karena apapun yang terjadi, mereka akan tetap menerima Mutia di SD Seta Higashi. Usai wawancara singkat tentang kaluarga dan tes ringan bahasa Inggris, kami harus langsung ke lokasi SD untuk urusan administrasi. Walau susah karena umumnya guru di sini tidak bisa berbahasa Inggris, mereka sangat helpful. Ada beberapa lembar formulir yang harus saya isi, diantaranya formulir data siswa, asuransi (tidak harus ikut) dan formulir reduksi biaya makan siang. Tanpa reduksi, saya harus membayar 3850 yen per bulan untuk lunch dan persatuan orang tua murid (PTA).

Kalau Anda menganggap saya hebat karena lancar berkomunikasi dan bisa membaca kanji, Anda salah besar. Untuk urusan wawancara, saya ditemani Muhiddin, JDS Scholar asal Uzbekistan, dan urusan membaca kanji saya serahkan pada Mas Sumadi, mahasiswa S3 Monbusho. Hehe, itulah enaknya punya banyak teman! Terima kasih banyak atas bantuannya, ya Mas-mas.

Selesai urusan administrasi, kami kemudian ke toko yang menjual perlengkapan sekolah. Wah, habis 20 ribu untuk baju atas, rok, sweater, baju taiiku (olah raga), sepatu sekolah dan olahraga, dan pernak-pernik lainnya. Mungkin karena senang dengan orang asing atau ada alasan lain, pemilik toko Yamazaki di bilangan Seta Ni Chome memberi beberapa hadiah pada Mutia, seperti tempat botol minum, sapu tangan dan pen case. "Domo arigatou gozaimashita", jawab kami serempak.

Lagi enak-enaknya membayangkan peristiwa demi peristiwa, saya dikejutkan dengan suara lantang yang saya kenal baik: "Watashiwa Mutia desu!". Dan aula berisi seratusan siswa dan ortu pun menjadi gaduh dengan suara tepuk tangan. Ya Allah, ternyata tiba saat perkenalan siswa baru dihadapan seluruh komunitas sekolah. Anak saya termasuk 1 diantara belasan anak baru yang diharuskan memperkenalkan diri. "Shugoi ... shugoi ...", kata bapak-bapak disamping saya. Saya dan istri senyum-senyum saja. Tak disangka, ajaran kilat istri saya di pesawat masih membekas di ingatan Mutia. Ah, anak memang mutiara jiwa!


Surprise yang saya terima pagi itu belum berakhir. Ketika mulai masuk kelas (ni neng san kumi), dia juga bisa menjawab saat diabsen dengan "Genki desu". Belakangan saya tahu, ternyata dia hanya menirukan teman-teman saat nama mereka dipanggil satu-satu oleh Satake Sensei, guru kelasnya.

Jadi, bagi Anda yang ingin menyekolahkan putra putri di Jepang, tidak usah khawatir. Ikuti saya seluruh prosedurnya. Nanti mereka akan membantu sekuat tenaga, bahkan dengan mendatangkan guru yang bisa berbahasa Inggris ke sekolah sekadar untuk mengajar murid asing. Halangan bahasa memang menyusahkan, tapi jalani saja. Nanti akan terbiasa dengan sendirinya, seperti pepatah: litle by litle, long long become hill.

3 comments:

Syavira Noviamsyah said...

muthia masih kenal ngak sama aku.
Aku syavira teman kamu di sukadamai kelas 2E sekarang aku sudah di Kuala Lumpur,Malaysia.Wah hebat ya kamu berani memperkenalkan diri di hadapan orang banyak. Apakah kamu sudah bisa bahasa jepang. kamu disana sekarang ini kelas berapa?

Syavira Noviamsyah said...

muthia masih kenal ngak sama aku.
Aku syavira teman kamu di sukadamai kelas 2E sekarang aku sudah di Kuala Lumpur,Malaysia.Wah hebat ya kamu berani memperkenalkan diri di hadapan orang banyak. Apakah kamu sudah bisa bahasa jepang. kamu disana sekarang ini kelas berapa?

Syavira Noviamsyah said...

muthia masih kenal ngak sama aku.
Aku syavira teman kamu di sukadamai kelas 2E sekarang aku sudah di Kuala Lumpur,Malaysia.Wah hebat ya kamu berani memperkenalkan diri di hadapan orang banyak. Apakah kamu sudah bisa bahasa jepang. kamu disana sekarang ini kelas berapa?